Iklan

Iklan

Eks Pimpinan Sarankan KPK Usut Para Pemberi Uang ke Bowo Sidik

Rabu, 15 Juli 2020 | 11:27:00 PM WIB Last Updated 2020-07-15T15:27:50Z

Foto Ilustrasi shutterstock
Koranelektronik.com, - Mantan Plt Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indriyanto Seno Adji menyarankan agar lembaga antirasuah mengusut dugaan pemberian gratifikasi, ataupun suap ke bekas anggota DPR, Bowo Sidik Pangarso. Sebab, diduga banyak pihak yang memberikan uang ataupun barang ke Bowo Sidik yang dinilai hingga kini belum diusut.

Salah satu pihak yang diduga memberikan uang ke Bowo Sidik Pangarso yakni, Politikus Partai Demokrat, M Nasir. Sejumlah uang yang diberikan Nasir ke Bowo diduga berkaitan dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Meranti.
"Memang sebaiknya KPK menindaklanjuti masalah suap dan gratifikasi ini setelah putusan Bowo sudah berkekuatan tetap saja, sehingga sudah ada kepastian keterlibatan tidaknya saudara Nasir tersebut," kata Indriyanto saat dikonfirmasi, Rabu (15/7/2020).
Menurut Indriyanto, untuk membuktikan dugaan pemberian uang itu tidak mudah. Apalagi, kejadian pemberian itu sudah cukup lama. Oleh karenanya, perlu kecermatan penyidik KPK untuk menuntaskan para pihak pemberian uang ke Bowo Sidik Pangarso.
"Memang diperlukan kecermatan penegak hukum KPK dan tidak bisa secara gegabah terkait pembuktian dan alat bukti tersebut," tegasnya.
Sebelumnya, Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri memastikan pihaknya akan menindaklanjuti keterangan Bowo dalam persidangan. Ali menyatakan bahwa berdasarkan fakta persidangan, jaksa penuntut umum (JPU) menilai keterangan Bowo berdiri sendiri tanpa didukung alat bukti lain, sehingga berlaku asas satu saksi bukanlah saksi.
Namun, ditegaskan Ali, jika nantinya ditemukan bukti dan fakta yang menguatkan keterangan Bowo soal aliran uang suap dari sumber lain, salah satunya M Nasir, maka KPK tak segan akan menindaklanjuti.
"Jika nantinya ditemukan bukti-bukti dan fakta yang memperkuat keterangan Bowo SP tersebut, tentu KPK akan menindaklanjutinya," kata Ali saat dikonfirmasi.
Sekadar informasi, KPK pernah memeriksa M Nasir dalam kasus gratifikasi Bowo Pangarso. Bahkan, KPK sebelumnya juga sempat menggeledah ruang kerja Nasir di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 4 Mei 2019, lalu.
Nasir merupakan adik dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin yang pernah tersangkut kasus korupsi. Penggeledahan terhadap ruang kerja M Nasir sendiri diduga berkaitan dengan pemberian gratifikasi untuk Bowo Sidik Pangarso terkait pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Bowo Sidik Pangarso sendiri pernah buka-bukaan soal penerimaan uang gratifikasi dari sejumlah pihak terkait kedudukannya saat menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar.
Bowo menyinggung nama mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, mantan Ketum Golkar Setya Novanto, Bupati Minahasa Selatan Christiana Eugenia Tetty Paruntu, utusan menteri, hingga politikus Demokrat Muhammad Nasir.
Bowo mengatakan bahwa total uang Rp8 miliar yang diterimanya berasal dari beberapa sumber. Salah dari M Nasir yang juga duduk sebagai anggota DPR saat itu, terkait dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Meranti.
Bowo mengaku menerima 250 ribu dolar Singapura atau bila dirupiahkan saat kurs saat itu sebesar Rp2,5 miliar. Bowo mengaku bahwa penerimaan uang itu saat mengemban tugas sebagai anggota Badan Anggaran.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Eks Pimpinan Sarankan KPK Usut Para Pemberi Uang ke Bowo Sidik

Iklan