Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Indonesia Pernah Menghadapi Flu Spanyol, Adakah PSBB Kala Itu?

Kamis, 30 Juli 2020 | 7:55:00 PM WIB Last Updated 2020-07-30T11:55:36Z


Peta wabah flu spanyol di Jawa pada masa lalu (Dok. koleksi Syefri Luwis)

Koranelektronik.com - Pandemi virus Corona bukanlah pandemi pertama yang terjadi di Indonesia. Ketika pandemi flu spanyol mendunia pada tahun 1918, Indonesia juga merasakan dampaknya.

Flu spanyol diselidiki ternyata berasal dari Amerika dan China. Tetapi, sampai saat ini belum ada pengamatan yang benar tentang asal mula dari penyakit ini. Flu spanyol memiliki beberapa kesamaan dengan virus Corona, seperti gejala yang mirip influenza, penularan yang cepat, dan berdampak pada kematian.

Kesamaan lainnya yang serupa adalah sama dengan penanganannya Covid-19, salah satunya merupakan penerapan Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lockdown. Pada masa pandemi flu spanyol, kebijakan itu juga diberlakukan walaupun akhirnya terjadi bentrok antara persepsi kedokteran, kehakiman, dan pebisnis.

Syefri Luwis, seorang peneliti sejarah wabah dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa kala itu dunia kedokteran melarang masyarakat untuk berkumpul agar bisa menanggulangi penyakit flu spanyol. Akan tetatpi hal itu tak disetujui oleh direktur kehakiman.

"Dinas kesehetan saat itu tidak mengizinkan masyarakat untuk kumpul-kumpul. Namun, direktur kehakiman justru khawatir akan terjadi keresahan masyarakat, jika mereka tidak diizinkan kumpul-kumpul," jelas Syefri melalui BNPB Channel, Kamis (30/7/2020).

Ravando Lie, seorang Kandidat doktor sejarah dari University of Melbourne menerangkan bahwa pada masa itu juga ada protokol kesehatan, berupa tata cara yang mengatur kegiatan seseorang. Salah satunya merupakan aturan hukuman kurungan  bagi mereka yang melanggar tata cara, seperti menaikan dan menurunkan penumpang, angkut barang di pelabuhan, dan lainnya.

Tetapi hal ini justru menimbulkan ketegangan pada pihak pengusaha karena bisa mempengaruhi bisnis. Oleh karena itu, protokol yang telah dibuat itu tak dijalankan.

"Dokter juga menyarankan lockdown, tapi ditolak karena takut menimbulkan kekacauan. Masyarakat yang kebingungan, akhirnya bergantung pada obat-obatan tradisional," tegas Revando.

(Vvy/Fvy)
×
Berita Terbaru Update