Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Pemeriksaan Maria Lumowa, Temukan 3 Fakta Baru Kasus Pembobol BNI 1,7 T

Sabtu, 25 Juli 2020 | 6:45:00 AM WIB Last Updated 2020-07-24T22:45:32Z





KoranElektronik.com-Perjalanan kasus tersangka pembobolan Bank BNI Rp 1,7 triliun Maria Pauline Lumowa (MPL) terus berlanjut. Kemarin, Maria Lumowa menjalani pemeriksaan Bareskrim Polri. Ada tiga fakta baru dari pemeriksaan Maria Lumowa.
Bareskrim Polri memeriksa Maria Lumowa pada Jumat (24/7/2020). Pemeriksaan ini menindaklanjuti penyidikan pada Kamis (23/7).
"Pemeriksaan hari ini terkait dengan pemeriksaan yang kemarin, yang beberapa pertanyaan ditujukan jkepada saksi AHW terkait dengan pemberian fasilitas kredit, pengajuan kredit, sampai dengan pencairannya kemudian L/C fiktif yang digunakan," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan di Gedung Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pada Kamis (23/7), penyidik Direktorat Tipideksus Bareskrim Polri memeriksa Maria Lumowa dengan 27 pertanyaan. Maria Lumowa ditanyai soal identitas dan riwayat keluarganya.
"Tersangka MPL diberi 27 pertanyaan untuk sementara ini. Dari 27 pertanyaan itu, intinya yang ditanyakan adalah berkaitan dengan identitas dan riwayat keluarga itu pasti secara formilnya," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Argo Yuwono kepada wartawan di Lapangan Tembak, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2020).
Maria Lumowa juga ditanyai seputar sejumlah perusahaan berkaitan dengan debitur dari Bank BNI yang mengajukan LC kredit. Selain itu, Maria Lumowa juga dicecar soal beberapa surat atau dokumen yang pernah dia buat.
ngan beberapa perusahaan yang merupakan debitur dari BNI yang diajukan permohonan kredit LC. Itu kita tanyakan juga dan ada juga beberapa surat ataupun dokumen ataupun suatu surat pernyataan yang pernah dibuat oleh tersangka MPL, kita tanyakan kembali," tutur Argo.
Kembali ke pemeriksaan pada Jumat (24/7), Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan belum ada tersangka baru dalam kasus Maria Lumowa. Soal penelusuran aset Maria Lumowa, Ramadhan juga belum dapat menyampaikannya.
"Ini dalam pengembangan nanti kalau ditemukan dalam pemeriksaan ditemukan tersangka baru akan diumumkan," jelas Ramadhan.
Dari pemeriksaan menyangkut Maria Lumowa kemarin, terungkap fakta baru. Berikut fakta-faktanya:
1. Bareskrim Ajukan Permohonan Perpanjangan Penahanan
Bareskrim Polri mengajukan perpanjangan masa penahanan Maria Lumowa. Surat pengajuan itu diajukan ke Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.
Permohonan perpanjangan masa penahanan Maria Lumowa tertuang dalam surat Kabareskrim Nomor B3559.VII Res 22/2020/Dit Tipidsus tertanggal 23 Juli 2020. Bareskrim mengajukan perpanjangan penahanan selama 40 hari.
"Sesuai dengan surat Kabareskrim Nomor B3559.VII Res 22/2020/Dit Tipidsus tanggal 23 Juli 2020 yang ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk mengajukan permohonan perpanjangan penahanan MPL selama 40 hari ke depan
Penyidik Direktorat Tipideksus Bareskrim Polri memeriksa narapidana Adrian Herling Waworuntu atau AHW sebagai saksi. Adrian diperiksa terkait Maria Lumowa.
"Pada Kamis (23/7) kemarin di Pondok Rajeg, Cibinong, penyidik Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri telah melakukan pemeriksaan terhadap narapidana atas nama AHW sebagai saksi pada kasus korupsi dan TPPU tindak pidana pencucian uang dengan tersangka MPL," ujar Kombes Ahmad Ramadhan.
Adrian dicecar 30 pertanyaan oleh penyidik. Tetapi, Adrian tak ingin memberikan sumpah dan hendak melawan di persidangan.
"Dalam pemeriksaan tersebut penyidik telah mengajukan beberapa pertanyaan sebanyak 30 pertanyaan," ucap Ramadhan.
"Namun, saksi AHW tidak mau disumpah karena yang bersangkutan ingin hadir langsung nantinya dalam persidangan kasus MPL untuk melakukan perlawanan," tambahnya.
Pemeriksaan Adrian Herling Waworuntu sebagai saksi ternyata menguatkan penjelasan Maria Lumowa. Keterangan Adrian Waworuntu dianggap menguatkan ketika dia jadi tersangka dan terdakwa.
"Kami sampaikan keterangan dari saksi AHW oleh penyidik dianggap menguatkan karena dua-duanya berbuat yang sama," kata Kombes Ahmad Ramadhan.
"Menguatkan penjelasan yang diberikan pada saat yang bersangkutan sebagai tersangka atau terdakwa pada kasus yang sama," sambungnya.

×
Berita Terbaru Update