Iklan

Iklan

Prediksi Puncak Covid-19 hingga September 2020, Apa Persiapan Pemerintah?

Santi Dwi Lestari
Rabu, 15 Juli 2020 | 5:48:00 PM WIB Last Updated 2020-07-15T09:48:52Z
Petugas medis melakukan tes usap (swab test) ke pedagang Pasar Karang Anyar di Jakarta, Kamis (26/6/2020). Tes swab dengan metode PCR dilakukan secara masif setelah adanya pelonggaran PSBB, terutama di wilayah yang berpotensi tinggi menjadi tempat penularan Covid-19. (merdeka.com/Imam Buhori)
Sejak diumumkan pertama kali pada 2 Maret 2020 langsung oleh Presiden Jokowi, grafik kasus positif Covid-19 di Indonesia terus menanjak. Dari angka satuan naik jadi puluhan, ratusan, ribuan hingga kini menjadi puluhan ribu kasus. Empat bulan sejak dipastikan Indonesia positif Covid-19, kasus ini telah berkembang dan menyebar di 34 Provinsi dan 461 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Data terbaru Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Selasa (14/7/2020) menyebutkan, readyviewed kasus positif di Indonesia sudah mencapai 78.572. Sedangkan angka sembuh sejumlah 37.636 orang dan meninggal dunia berjumlah 3.710 orang.

Belum ada yang bisa memastikan kapan pandemi Covid-19 di Indonesia akan berakhir. Namun, upaya pencegahan masif yang telah dilakukan diyakini bisa memberikan harapan kasus akan segera mencapai puncaknya dan dan tren selanjutnya adalah angka grafik penurunan. 
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebutkan, puncak Covid-19 diprediksi terjadi pada Agustus atau September 2020. Hanya, dia menggarisbawahi, prediksi ini bisa berubah apabila virus corona tidak dikendalikan.
"Kalau melihat angka-angka memang nanti perkiraan puncaknya ada di Agustus atau September, perkiraan terakhir. Tapi kalau kita tidak melakukan sesuatu, ya bisa angkanya berbeda," ujar Jokowi di  Jakarta, Senin (13/7/2020).
Jokowi pun meminta para menterinya bekerja keras menekan penyebaran Covid-19. Jika tidak, maka pandemi virus corona dikhawatirkan akan semakin panjang. Dia meminta para menteri memasifkan gerakan disiplin protokol kesehatan. 
"Masifkan kembali gerakan nasional disiplin terhadap protokol kesehatan, mengenai jaga jarak, penggunaan masker, cuci tangan," tegasnya.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang tidak disiplin menggunakan masker dan menerapkan protokol kesehatan. Jokowi menyebut hal tersebut terlihat dari survei yang dilakukan pemerintah provinsi Jawa Timur.
"Dari survei yang kita lihat misalnya, saya mendapatkan laporan saat ke Jawa Timur, survei mereka di Jatim itu 70 persen masyarakat tidak menggunakan masker," jelas Jokowi.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan, pihaknya masih mempelajari langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa puncak pandemi.   
"Ini harus dibahas bersama tim, tidak bisa sendirian," ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (14/7/2020).
Yuri mengakui proses penularan Covid-19 masih terjadi hingga saat ini. Bahkan sekarang angkanya semakin tinggi. Ini terjadi karena protokol kesehatan belum sepenuhnya dijalankan oleh masyarakat dengan benar.
"Gunakan masker. Pilih yang nyaman sehingga bisa melindungi," tegasnya.
Yuri menambahkan, adaptasi kebiasaan baru dengan mengenakan masker, jaga jarak aman dan rajin mencuci tangan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari di masa pandemi saat ini.
"Penyakit ini masih ada dan terus ada di wilayah ini. Kita tidak bisa berharap dan memastikan kapan vaksin akan datang. Tidak ada yang bisa menjamin sebulan dua bulan lagi vaksin sudah didapatkan," jelasnya.
Tim Gugus Tugas juga sudah meminta ke pemerintah daerah agar persoalan terkait protokol kesehatan yang ada di masyarakat bisa teratasi dengan sosialisasi yang masih.
"Biar tidak ke pusat semuanya," singkatnya.
Dia juga meminta Pemda untuk menyikapi perkembangan Covid-19 di wilayahnya, termasuk dalam pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskal Besar (PSBB) yang masih diberlakukan di sejumlah daerah di Indonesia.
"Pusat membuat pedoman oprasional dan daerah melaksanakan dengan memperhatikan situasinya di daerahnya seperti apa, itu menjadi tanggung jawabnya kepala daerah. Jadi kalau daerah berkeyakinan masih efektif PSBB ya artinya masih, karena kepala daerah adalah kepala gugus tugas di wilayahnya," ujarnya.

Upaya menekan penyebaran Covid-19 juga dilakukan dengan menambah jumlah daerah yang masuk zona hijau. Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro menyatakan, tiga upaya akan dilakukan tim Gugus Tugas agar zona hijau Covid-19 di Indonesia semakin banyak. 
"Pertama, kerja keras dan pengawasan ketat oleh gugus tugas daerah dan seluruh pimpinan daerah," ujarnya, Selasa (14/7/2020).
Kedua, kedisiplinan dan kepatuhan seluruh anggota masyarakat tanpa kecuali. Dan Ketiga, kesadaran bahwa daerah hijau akan membuat masyarakat lebih produktif namun tetap aman Covid-19
Reisa mengatakan, hingga pekan lalu, persentase daerah berstatus zona hijau naik dari pekan sebelumnya. Sebanyak 20,2 persen dari seluruh 514 kabupaten dan kota di Indonesia masuk kategori hijau. Sedangkan, persentase zona lain adalah 34 persen risiko rendah atau zona kuning. 35 persen zona oranye dan 10,7 persen merupakan zona merah.
Untuk jumlah zona hijau sendiri, Reisa mengatakan jumlahnya mencapai 104 kabupaten/kota. Jumlah ini terdiri dari 61 daerah yang tidak terdampak dan 43 tanpa ada kasus baru.
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menambahkan, kaitannya dalam menghadapi masa puncak pandemi, saat ini pihaknya tengah memfokuskan pada penanganan di  8 provinsi yang jumlah kasusnya tinggi dan laju insidensinya juga tinggi.
"Pertama adalah Jawa Timur dengan kontribusi kasus dari awal sampai sekarang 16.658, DKI 14.517, Sulsel 6.973, Jateng 5.473, Jabar 5.077, Kalsel 4.146, Sumut 2.323, Papua 2.267," beber Wiku, Selasa (14/7/2020).
Wiku melanjukan, 8 provinsi ini berkontribusi sampai dengan 74 persen dari seluruh kasus di Indonesia. Menurutnya perlu tindakan 3T (testing tracing dan treatment) yang lebih masif lagi dengan harapan kontributor kasus ini akan bisa menurun.
"3T akan menjadi lebih baik dan kondisi Indonesia secara keseluruhan akan menjadi lebih baik pula," yakin Wiku.
Wiku menambahkan, perlu peran aktif seluruh pimpinan daerah dan masyarakat untuk bersama sama agar seluruh kondisi wilayah di Indonesia membaik.
"Zonasinya karena itu terkait dengan protokol kesehatan yang dijalankan secara disiplin," tukasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Prediksi Puncak Covid-19 hingga September 2020, Apa Persiapan Pemerintah?

Trending Now

Iklan