Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Presiden Prancis Diadang Demonstran saat Jalan-jalan di Taman

Kamis, 16 Juli 2020 | 10:11:00 PM WIB Last Updated 2020-07-16T14:11:31Z


Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (AFP PHOTO / Mladen ANTONOV)

Presiden PrancisEmmanuel Macron, dan istrinya, Brigitte, diadang oleh para demonstran gerakan Rompi Kuning (Gilets jaunes) saat berjalan kaki di sebuah taman di Paris, pada perayaan Hari Bastille.

Demonstran gerakan Rompi Kuning mengadang presiden Macron dan istrinya ketika mereka berjalan dengan ajudan di Taman Tuileries di Paris pada Selasa lalu.
Dalam sebuah video di laman Facebook Gilets jaunes, terlihat beberapa lusin demonstran mencemooh dan meneriakkan slogan 'Macron mundur' dan mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel mereka.
"Luar biasa, kami menemukan duri di pihak kami," kata seorang pemrotes.
Dilansir AFP, Kamis (16/7), demonstran tersebut melambaikan jari ke wajahnya sambil mengeluh tentang kesenjangan ekonomi. Dalam video tersebut, baik Macron maupun para demonstran tidak menggunakan masker.
"(Kejadian) itu menimbulkan masalah keamanan yang nyata. Bagaimana mungkin presiden mengambil risiko seperti itu?," kata Ketua Partai Republik, Christian Jacob, yang merupakan oposisi kepada saluran televisi Prancis.
Pemimpin partai sayap kiri, Jean-Luc Mélenchon, mengatakan Macron seharusnya lebih berhati-hati. Namun, seorang juru bicara pemerintah, Gabriel Attal, mengatakan bahwa insiden tersebut memperlihatkan Macron masih mau berdialog dengan pihak-pihak yang berseberangan.
Kejadian itu seolah menunjukkan kepada lawan politiknya yang kerap mengkritik Macron karena terlalu menjaga jarak dari warga.
Dalam video itu, Macron terlihat berulang kali mendesak kelompok yang berhadapan dengannya untuk 'bersikap tenang' sambil meluangkan waktu mendengarkan keluhan mereka.
Macron mengatakan dia mengerti 'perasaan ketidakadilan' mereka dan menanggapi keluhan demonstran tentang dugaan pelanggaran polisi. Selain itu, dia juga mengatakan 'ada juga orang yang kejam di antara kalian', merujuk pada tindakan demonstran tersebut.
"Ini adalah hari libur nasional (Hari Bastille), saya sedang berjalan-jalan dengan istri saya dan Anda mengejek saya," kata Macron kepada salah satu dari mereka.
Menurut penghitungan resmi, sekitar 2.500 demonstran dan 1.800 aparat penegak hukum terluka dalam aksi protes mingguan Gilets jaunes yang dimulai sejak November 2018.
Aksi protes dengan jumlah massa besar perlahan berkurang pada musim panas 2019, meskipun demo dengan massa yang lebih kecil terus berlanjut.
Demonstrasi ini dilatarbelakangi oleh menurunnya daya beli karena tingginya biaya hidup dan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar. Demo itu sering berujung bentrokan serta kerusuhan.
Aktivis dari gerakan tersebut mengatakan, dua lusin orang telah kehilangan bola mata akibat terkena peluru karet yang ditembakkan polisi, dan lima orang lainnya kehilangan tangan akibat granat setrum.
×
Berita Terbaru Update