Iklan

Iklan

Surabaya Menerapkan Jam Malam, Batas Aktivitas Hanya Sampai Pukul 22.00 WIB

Rabu, 15 Juli 2020 | 9:26:00 PM WIB Last Updated 2020-07-15T13:26:27Z
Penerapan jam malam di Surabaya selama pandemi corona. (Foto: ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

Pemerintah Kota Surabaya resmi menerapkan aturan jam malam. Aturan tersebut membatasi aktivitas warga di luar rumah pada malam hari hingga pukul 22.00 WIB.
Aturan jam malam diberlakukan setelah Peraturan Walikota Surabaya Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Pedoman Tatanan Normal Baru pada Kondisi Pandemi Covid-19 di Kota Surabaya, diubah menjadi Perwali Nomor 33 Tahun 2020. 

Perubahan Perwali tentang Tatanan Normal Baru ini, salah satunya berisi pembatasan jam malam, dan sudah disahkan dan ditetapkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, per 13 Juli 2020.
Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Irvan Widyanto, pembatasan aktivitas di luar rumah pada malam hari ini dilaksanakan setiap pukul 22.00 WIB setiap harinya.
"Aktivitas luar rumah dibatasi pada jam malam, paling lambat pukul 22.00. Semua aktivitas yang punya risiko tinggi penularan Covid-19 akan dilarang dulu," kata Irvan, Rabu (15/7).
Kendati demikian, adapula aktivitas yang tetap boleh dijalankan saat malam hari, yakni kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, logistik, dan kedaruratan serta kebutuhan warga yang mendesak.
"Jadi rumah sakit, apotik, fasilitas pelayanan kesehatan, pasar, stasiun, terminal, pelabuhan, SPBU, pengiriman barang, dan fasilitas pelayanan masyarakat," ujarnya. 
Di luar kegiatan yang diperbolehkan tersebut, masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak, harus berada di rumah masing-masing, selambat-lambatnya pukul 22.00 WIB. 
Di luar sektor yang dikecualikan, jika ada warga yang melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari, maka yang bersangkutan wajib menunjukkan surat keterangan sehat. 
"Jadi harus ada surat keterangan atau bukti pendukung lain yang dapat dipertanggungjawabkan," katanya.
Irvan melanjutkan, jika ditemukan warga yang melanggar, Pemkot Surabaya telah mengatur sanksi adminitratif dalam perubahan Perwali tentang Pedoman Tatanan Normal Baru, yakni, teguran lisan, teguran tertulis, dan paksaan pemerintah.
Ia memaparkan, sanksi paksaan pemerintah ini meliputi penyitaan KTP, pembubaran kerumunan, dan penutupan sementara izin usaha dan sebagainya.
"Paksaan pemerintah lainnya berupa sanksi sosial, antara lain push up, joget, memberi makan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) di Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial)," katanya.
Aturan pembatasan jam malam di Surabaya ini merupakan rekomendasi Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi). 
Pembatasan aktivitas di luar rumah pada malam hari ini juga pernah diterapkan saat pelaksaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, akhir April lalu.
Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Kota Surabaya masih menjadi daerah penularan Covid-19 terbanyak di Jatim.
Per Selasa (14/7), kasus kumulatif corona di Surabaya tercatat sebanyak 7.331 orang. 3.705 di antaranya sembuh, 638 lainnya meninggal dunia.
Sementara, kasus positif virus corona di Jatim, tercatat sebanyak 17.212 orang. 7.479 di antaranya dinyatakan sembuh, 1.289 lainnya meninggal dunia.
Jatim, hingga kini masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif corona terbanyak secara nasional. Melebihi DKI Jakarta dan sejumlah provinsi besar lainnya.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Surabaya Menerapkan Jam Malam, Batas Aktivitas Hanya Sampai Pukul 22.00 WIB

Trending Now

Iklan