Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Turki Sebut Masjid Hagia Sophia Terbuka bagi Umat Agama Lain

Selasa, 14 Juli 2020 | 11:12:00 PM WIB Last Updated 2020-07-14T15:12:57Z


Ilustrasi interior Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (AP/Emrah Gurel)

Pemerintah Turki memastikan situs bersejarah Hagia Sophia yang kembali difungsikan sebagai masjid akan tetap dapat dikunjungi wisatawan dari semua pemeluk agama.

"Hagia Sophia akan terus merangkul semua orang meski dengan status barunya (sebagai masjid) untuk melestarikan warisan budaya bersama umat manusia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy, seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, pada Selasa (14/7).
Aksoy menegaskan bahwa perubahan status Hagia Sophia merupakan hak kedaulatan Turki sehingga tidak ada pihak yang dapat mencampuri hal tersebut.
Ia menyatakan status Hagia Sophia adalah masalah internal dan milik Turki.
Pernyataan itu diutarakan Turki setelah bertemu dengan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa pada Senin (13/7) terkait perubahan status Hagia Sophia.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada 10 Juli lalu menetapkan Hagia Sophia kembali menjadi masjid setelah Majelis Negara Turki membatalkan keputusan kabinet pada 1934 soal status bersejarah itu.
Upaya Turki untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia menjadi masjid sebenarnya sudah dilakukan sejak 2005. Dua tahun lalu Mahkamah Konstitusional Turki sempat menolak usulan tersebut.
Langkah Turki tersebut memicu protes dari sejumlah negara. Amerika Serikat, Yunani, Rusia, hingga Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) memprotes keputusan Turki soal perubahan status Hagia Sophia tersebut.
Terletak di tepi Selat Bosporus, Istanbul, Hagia Sophia awalnya adalah gereja yang dibangun Kekaisaran Byzantium dan sempat dikuasai Kekaisaran Romawi, saat mereka menguasai Turki sekitar 1.500 tahun lalu.
Saat itu, Istanbul masih bernama Konstantinopel yang menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, yang kelak disebut Kekaisaran Byzantium.
Di zaman Kekaisaran Byzantium, bangunan yang terkenal akan arsitektur dan kubah besarnya itu merupakan sebuah gereja Kristen Ortodoks dan sempat berubah aliran menjadi gereja Katolik Romawi.
Ketika Sultan Muhammad al Fatih (Mehmed II) merebut Konstantinopel dari kekuasaan Kekaisaran Byzantium pada 1453, dia mengubah bangunan itu menjadi masjid.
Akan tetapi, pemerintah Turki di bawah kepemimpinan mendiang Presiden Mustafa Kemal yang beraliran nasionalis sekuler memutuskan menjadikan Hagia Sophia sebagai museum.
Dalam pidatonya, Presiden Erdogan memastikan bahwa ikon Kristen akan tetap terpasang di Hagia Sophia, meski bangunan itu telah beralih fungsi menjadi masjid.
Ia juga menyatakan fungsi masjid tak menjadikan Hagia Sophia hanya eksklusif untuk umat Muslim.
×
Berita Terbaru Update