Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Hampir 3 Miliar Satwa Mati dan Tersingkir, Akibat Kebakaran Hutan Ekstrem Australia

Senin, 03 Agustus 2020 | 6:47:00 PM WIB Last Updated 2020-08-03T11:13:11Z






Koranelektronik.com – Laporan terbaru World WideFund For Nature menyebut sebanyak hampir tiga milliar hewan, terdiri dari mamalia repitil, burung dan katak, mati ataupun tersingkir karena kebakaran hutan semak di australia 2019-2020. Jumlah itu hampir tiga kali lipat daripada yang pernah diperkirakan pada Januari lalu.

Laporan berjudul ‘Australia’ 2019-2020 Bushfires: The Wildlife Toll’ itu merinci bahwa satwa yang menjadi korban kebakaran itu lebih detil terdiri dari 143 juta mamalia, 2,46 milliar repitil, 180 juta burung dan 51 juta katak. Meski laporan masih tahap finalisasi, angka-angka itu diyakini tidak akan berubah.

Riset pertama di dunia tentang dampak kebakaran hutan bagi satwa liar itu melibatkan sepuluh ilmuan dari University of Sydney, University of New South Wales, University of Newcastle, Charles Sturt University dan BirdLife Australia. Ketua  proyeknya adalah Lily Van Eeeden dari University of Sydney.

“Temuan sementara itu sangat mengejutkan,” kata CEO WWF-Australia Dermot O’Gorman dalam artikel yang dipublikasikan di situs web WWF Australia, 28 Juli 2020. Menurutnya, sulit mencari pembandingan peristiwa lain di dunia dengan skala dampak sama. “itu adalah bencana terburuk yang dialami liar sepanjang sejarah modern,”  kata dia lagi.

Chris Dickman, profesor di University of Sydney yang membimbing penelitian itu, juga menyebut hampir tiga milliar satwa liar di jalur kebakaran itu adalah angka yang sangat besar. “ini adalah angka yang sulit dipahami,” katanya.

Tim peneliti tak mendetailkan berapa yang mati dianatar satwa korban kebakaran itu. Tapi Dickman mengatakan yang lolos dari api pun tak akan berpeluang besar untuk bisa bertahan hidup. Alasannya dua kekuarangan stok makanan atau kehilangan hunian tempat tinggalnya dan terpaksa pindah kehabitat lain yang sudah lebih dulu dihuni yang lain.



Pada Januari lalu, Dickman yang bekerja dengan para ilmuan WWF, memberikan awal 1,25 milliar satwa terdampak kebakaran hutan semak itu. Tapi dalam kalkulasinya, sang profesor hanya fokus pada negara bagian New South Wales dan Victoria.

Sedang Van Eede mengatakan kalau proyeknya mengkaji bahwa wilayah terdampak seluas 11,46 juta hektare. Dia mengatakan dengan angka perkiraan skala benua dan belum pernah dilakukan sebelumnya di Australia maupun dunia. “Negara lain bisa membangun riset seperti ini pula untuk memperbaiki pemahaman dampak kebakaran hutan dimana-mana,” katanya.

O’Gorman mengamininya dengan menambahkan, sesuai isi laporan Van Eede dkk yang diperkirakan terbit akhir Agustus ini, kebakaran hutan ekstrem menjadi lebih sering terjadi karena perubahan iklim. “Riset seperti ini adalah jendela untuk melihat mega-kebakaran hutan dimasa-masa mendatang dan dampaknya untuk kehidupan di alam liar”.


(Dyn/Ke)
×
Berita Terbaru Update