LATEST IN TECH

Technology/feat-big

Iklan

Iklan

Malam 1 Suro Dianggap Malam Keramat Oleh Orang Jawa

Hardiyanti Lestari
Jumat, 21 Agustus 2020 | 11:34:00 PM WIB Last Updated 2020-08-21T15:37:36Z

 

Malam 1 Suro biasa dikenal masyarakat Jawa sebagai malam sakral atau malam keramat


Koranelektronik.com – Tahun baru hijiriah 1 Muharam 1442 jatuh pada hari kamis lalu 20 agustus 2020. Pada tanggal tersebut, dalam kalender Jawa dikenal sebagai malam 1 suro, atau lebih dikenal masyarakat dengan malam yang sakral atau keramat.

 

Menurut kepercayaan setempat, malam 1 suro dikenal sakral dan penuh aura mistis.

 

Bahkan mitosnya, malam 1 suro konon merupakan lebarannya mahluk gaib. Ada sebuah mitos yang menyatakan malam 1 suro menjadi malam buruk dalam satu tahun. Bahkan kerap dikaitkan dengan penampakan dan gangguan mahluk halus.

 

Pada zaman dahulu, masyarakat kejawen menyakini musibah dan bencana terjadi pada malam 1 suro. Malam 1 suro juga dikenal sebagai tradisi ruwatan untuk membuang sial.

 

Padahal sebenarnya malam 1 suro adalah malam penuh kemulian bagi umat islam.

 

Akar Kesakralan Malam 1 Suro

Muhammad Solikin dalam Misteri Bulan Suro: Prespektif Islam Jawa (2010) berpandangan, faktor terpenting yang menyebabkan bulan Suro dianggap sakral adalah budaya keraton. Ia menulis, bahwa keraton sering engadakan upacara dan ritual untuk peringatan hari-hari penting tertentu, dan akhirnya terus diwariskan, dilanjutkan dari generasi ke generasi.

 

Dalam konteks malam 1 suro, seperti dicatat Wahyana Giri dallam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010), lingkungan keraton Yogyakarta dan kasunaan Surakarta sebenarnya memaknainya sebagai mallam yang suci atau bulan penuh rahmat.

 

Pada malam tersebut mereka mendekatkan diri kepada tuhan mereka dengan membersihkan diri melawan segala godaan hawa nafsu, dengan menjalankan tirakat dan lealku atau perenung diri. Salah satunya, selamatan khusus satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berenti.

 

Sementara Prapto Yuwano, pengajar sastra jawa di Universitas Indonesia, mencoba menjelaskan mengapa pada akhirnya Malam 1 suro dimaknai secara menakutkan. Menurutnya, ini adalah imbas dari politik kebudayaan dari Sultan Agung dari kerajaan Mataram.

 

Pada kurun 1628-1629, Mataram mengalami kekalahan dalam penyerbuan ke Batavia, yang akhirnya membuat Sultan Agung melakukan evaluasi. Setelah penyerbuan itu pula, pasukan mataram yang menyerang Batavia telah terbagi ke dalam pelbagai keyakinan seiring semakin masifnya Islam di tanah Jawa.

 

Kondisi tersebut akhirnya membuat pasukan Mataram tidak solid. Kemudian, untuk merangkul semua golongan yang terbelah, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa Islam dengan pembaruan Kalender Saka dari Hindu dan Kalender Hijriah dari Islam.

 

FOTO : TRADISI SAMBUT BULAN SURO DI TENGAH PANDEMI 


Warga membawa kain mori penutup makam sunan kudus untuk diganti dengan yang baru saat prosesi buka luwur di desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah, Kamism (20/08/2020). Tradisi ini digelar setahun sekali, bertepatan pada tanggal 1 Muharam atau 1 Suro (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Doc. Cnnindonesia

 

Pasukan Patangpuluh Kendi Kasepuhan Girikusmo dengan mengenakan masker Mn=engirab kendi berisi air dari sumur berkah Girikusmo sebagai simbol berkah alam daam prosesi tradisi kirab Sura Girikusmo di desa Banyumeneng, Maranggen, Demak, Jawa Tengah, Kamis (ANTARA FOTO/Aji Styawan).

Doc. Cnnindonesia

 

Pemuka adat melakukan prosesi jamasan (Mencuci) pusaka keris di Blitar, Jawa Timur, Kamis (20/8). (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).

Doc. Cnnindonesia

 

Tradisi Jamasan keris yang rutin dilakukan pada awal bulan suro (Muharam) dalam penanggalan bilan jawa tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas keris yang sebagian besar sudah berusia puluhan tahun, serta sebagai wujud pelestarian budaya Jawa. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).

Doc. Cnnindonesia   

 

Sejumlah tokoh adat memanjatkan doa saat rtual larung sesaji di Pantai Serang Blitar, Jawa Timur, Jumat (21/8). Larung sesaji berisi hasil bumi dan aut warga yang dilaksanakan pada bulan Muharam tersebut sebagai wujud syukur masyarakat pesisir pantai selatan pulau Jawa. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).

Doc. Cnnindonesia 

 

Warga memikul sesaji yang akan dilarung ke laut di Pantai Serang Serang Blitar, Jawa Timur, Jumat (21/8). (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).

Doc. Cnnindonesia

  

Tradisi ini biasanya diikuti dan disaksikan oleh banyak penduduk setempat oleh banyak penduduk setempat dan pengunjung pantai. Hanya saja dalam situasi pandemi ini, pengunjung harus mentaati protokol kesehatan. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).

Doc. Cnnindonesia
 

 

 

(Dyn/Ke)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Malam 1 Suro Dianggap Malam Keramat Oleh Orang Jawa

Trending Now

Iklan