Notification

×

Iklan

Top Ads

Iklan

Indeks Berita

Menjadi Tersangka Kasus Pembuatan Surat Jalan Palsu Djoko Tjandra,Anita Kolopaking Memenuhi Panggilan Polisi

Jumat, 07 Agustus 2020 | 6:04:00 PM WIB Last Updated 2020-08-07T10:17:14Z


Anita Kolopaking. (CNN Indonesia)

KoranElektronik.com - Anita Kolopaking, tersangka kasus pembuatan surat jalan palsu Djoko Tjandra memenuhi panggilan penyidik kepolisian untuk dimintai keterangan pada Jumat (7/8/2020) di Bareskrim Polri.

"(Anita) datang jam 10.30 WIB, sebagai tersangka," kata Kadiv Humas Polri, Irjer Pol Argo Yuwono melalui pesan singkat, dikutip dari CNN.com.

Anita merupakan bekas pengecara Djoko Tjandra, buron kasus korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali. Namanya pertama kali disorot setelah terungkap keberadaan Djoko Tjandra di Indonesia tanpa terdeteksi aparat.

Selama di Indonesia Djoko Tjandra leluasa membuat e-KTP di Kantor Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoan Lama, Jakarta Selatan, untuk keperluan peninjauan kembali (PK). Anita disebut mendampingi Djoko selama proses pembuatan e-KTP tersebut.

Di balik aksi Anita tersebut, belakangan terungkap bahwa Djoko Tjandra berhasil masuk ke Indonesia dengan menggunakan surat jalan palsu.

Anita bersama sejumlah pejabat Polri pun terseret kasus pemalsuan surat jalan. Anita dipersangkakan melanggar pasal 223 KUHP yang berkaitan dengan pemalsuan surat.

Yakni, memberi bantuan atau pertolongan terhadap Djoko Tjandra selaku buronan untuk meloloskan diri. Ia resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Ditipidum Bareskrim Polri dalam kasus 'surat sakti' Djoko Tjandra 30 Juli 2020 lalu.

Penetapan tersebut dilakukan setelah pihak penyidik memeriksa 23 saksi dan melangsungkan gelar perkara.

Seletelah ditetapkan sebagai tersangka, Anita lantas mendapat surat panggilan pada 4 Agustus 2020. Namun Anita mangkir dengan alasan tengah dimintai keterangan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Pada Kamis (6/8/2020), Argo mengungkapkan bahwa Anita akan dipanggil untuk kali kedua. Jika kembali mangkir polisi akan melakukan penjemputan paksa terhadap Anita.

"Kalau panggilan kedua tidak hadir, penyidik bisa melakukan upaya paksa, melakukan penjemputan dari yang bersangkutan," tegas Argo.

Selain Anita, kasus surat jalan palsu ini juga memakan korban sejumlah Petinggi Polri. Setidaknya sudah tiga jendral Polri dicopot dari jabatannya.

Mereka adalah Brigadir Jendral Prasetijo Utomo yang copot dari jabatan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri, Inspektur Jendral Napoleon Bonaparte dicopot dari jabatan Kepala Devisi Hubungan Internasional, dan Brijen Nugroho Slamet Wibowo dari jabatan Sekretaris NCB Interpol Indonesia.

Bahkan kini, Prasetijo dijerat kasus pidana dan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penerbitan surat jalan palsu untuk memuluskan langkah Djoko Tjandra berpergian selama berada di Indonesia.

Dia dijerat pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 E KUHP dan pasal 426 ayat (1) KUHP dan atau pasal 221 ayat (1) ke-2 KUHP.

Pasal-pasal itu, menyangkakan tersangka telah membuat dan menggunakan surat palsu, membantu orang yang dirampas kebebasanya (Djoko Tjandra), hingga menghalangi penyidikan. Jendral berbintang satu terancam hukuman penjara enam tahun.
×
Berita Terbaru Update