LATEST IN TECH

Technology/feat-big

Iklan

Iklan

Wanti-wanti Anies Agar Gelombang COVID Ketiga Tak Terjadi

Minggu, 15 Agustus 2021 | 10:12:00 AM WIB Last Updated 2021-08-15T02:12:32Z

 

Foto: Anies Baswedan 

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbicara terkait kasus aktif, kasus baru dan laju penularan di DKI Jakarta menurun dalam kurun kurang lebih sebulan sejak puncak COVID-19. Anies mewanti-wanti masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan agar tidak membuka peluang terjadinya gelombang ketiga.

Awalnya Anies mengatakan kurva kasus aktif corona di DKI Jakarta menurun dalam sebulan sejak puncak corona. Anies juga memaparkan data keterisian rumah sakit yang berkurang sehingga ruang rawat diberikan lagi kepada pasien non-COVID-19.

Anies berharap semua pihak menjaga dan tetap bekerja keras agar tidak terjadi lagi peningkatan kasus COVID-19. Anies pun berbicara mengenai kemenangan di depan mata sudah dekat, namun dia mewanti-wanti agar masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan, tetap membatasi mobilitas, tidak beraktivitas sebebas-bebasnya, dan jangan membuka ruang munculnya gelombang berikutnya.

Berikut poin-poin pernyataannya.

Kurva Kasus Aktif COVID-19 DKI Jakarta Turun di Bawah 10 Ribu

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan kasus aktif COVID-19 di Ibu Kota mengalami penurunan. Dia menyebut saat ini angka kasus aktif berada di bawah 10 ribu.

"Kasus aktif di Jakarta per 12 Agustus telah turun di bawah angka 10 ribu kasus. Kasus aktif ini adalah jumlah orang yang positif yang masih dirawat di rumah sakit atau masih melakukan isolasi mandiri," kata Anies dalam siaran YouTube Pemprov DKI Jakarta, seperti dilihat detikcom, Sabtu (14/8/2021).

Anies mengatakan angka kasus aktif COVID-19 mencapai di bawah 10 ribu di Jakarta pernah terjadi pada 22 Mei lalu, kemudian kembali meningkat hingga mencapai puncaknya pada 16 Juli sebanyak 113.137 kasus aktif. Pada saat itu, kata Anies, rumah sakit sampai mendirikan tenda karena ruang perawatan hingga Unit Gawat Darurat (UGD) penuh.

"Terakhir kali kasus aktif kita di bawah 10 ribu adalah pada 22 Mei atau 2,5 bulan lalu. Selama hampir dua bulan sejak itu, kasus aktif kita naik secara eksponensial sehingga mencapai puncaknya pada 16 Juli, yaitu 113.137 kasus aktif," ujarnya.

"Pada saat puncak itu tercapai, seluruh kamar rumah sakit di Jakarta penuh. Bukan hanya ICU, bukan hanya kamar rawat inap, tapi antrean masuk UGD pun panjang meluber ke selasar-selasar, bahkan kita bangun tenda-tenda darurat," sambungnya.

Anies menuturkan penurunan angka kasus aktif biasanya lebih lama dibanding dengan peningkatan kasus. Namun dia menyampaikan penurunan kasus kali ini berhasil dicapai selama kurun waktu satu bulan dari puncak gelombang kedua COVID-19.

"Umumnya menurunkan kurva itu perlu waktu lebih lama daripada kenaikannya. Naiknya cepat, turunnya biasanya perlu waktu. Namun alhamdulillah, atas izin Allah, berkat kerja keras banyak pihak, dukungan kedisiplinan dari begitu banyak warga Jakarta, kita semua berhasil menurunkan kurva kasus aktif itu kembali di bawah 10 ribu dalam waktu kurang dari satu bulan sejak puncak gelombang kedua," tuturnya.

Anies mengibaratkan penanganan kasus aktif COVID-19 seperti sedang menambal atap rumah yang bocor saat hujan lebat. Sebesar apa pun ember yang disediakan untuk menampung air yang bocor, menurutnya, tidak akan pernah muat untuk menampung air yang turun selama atap yang bocor belum ditambal.

"Nah, kasus aktif ini bisa turun signifikan karena kita bisa menekan penambahan kasus baru. Ingat, analogi yang sering saya sampaikan, menambal atap bocor di kala hujan lebat. Di saat hujan lebat dan atap bocor, maka menaruh ember, menaruh baskom, di bawah untuk menampung air yang menetes adalah perumpamaan bagi usaha kita memperbesar kapasitas fasilitas rumah sakit yang merawat COVID, ini yang kita lakukan," ucapnya.

"Tapi apabila atap bocornya tidak ditambal, air akan terus-menerus turun, dan sebesar apa pun ember yang kita siapkan, akan selalu luber karena itu menutup atap yang bocor adalah ikhtiar penting. Nah, perumpamaan ini adalah sama dengan menghentikan penularan baru dengan cara membatasi mobilitas," lanjutnya.


Anies: Pandemi di DKI Melandai, tapi Belum Benar-benar Berkurang

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kurva pandemi COVID-19 di Jakarta sudah melandai. Namun dia mengatakan kasus Corona belum benar-benar berkurang.

"Perhitungan terakhir dari tim FKM UI menunjukkan bahwa nilai Rt Jakarta tepat di 1,0. Artinya, pandemi melandai, tapi belum benar-benar berkurang," kata Anies dalam siaran lewat kanal YouTube Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (14/8/2021).

Dia memaparkan soal Rt atau angka reproduksi efektif yang menjadi indikator tingkat keluasan penularan virus Corona. Semakin tinggi angka Rt di atas 1, artinya virus semakin cepat dan luas menular.

Bila Rt tepat di angka 1, artinya penularan virus Corona melandai dan konstan. Bila Rt berangka di bawah 1, artinya pandemi terkendali.

"Karena itu, kita harus berikhtiar ekstra. Masih ada risiko putar balik atau naik lagi," kata Anies.

Di masa-masa sebelumnya, Rt Jakarta juga pernah turun namun naik lagi. Kini Rt Jakarta turun lagi. Ini harus dijaga supaya Rt bisa mencapai di bawah angka 1. Caranya adalah mengendalikan aktivitas warga.

"Bila mobilitas penduduk Jakarta tiba-tiba kembali tinggi, angka reproduksinya akan meningkat lagi. Ini harus kita jaga. Momentum penurunan nilai Rt ini harus terus dilanjutkan," kata Anies.

Anies Sebut Ruang Rawat Diberikan Lagi untuk Non-COVID

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkap kasus baru dan kasus aktif Corona di Jakarta mengalami penurunan. Dampaknya, kini keterisian rumah sakit di Jakarta kembali turun dan bisa dialihkan pada ruang rawat non-COVID-19.

"Alhamdulillah kasus aktif di Jakarta per tanggal 12 Agustus ini telah turun di bawah angka 10 ribu kasus. Kasus aktif ini adalah jumlah orang yang positif yang masih dirawat di rumah sakit atau yang masih melakukan isolasi mandiri," kata Anies dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (14/8/2021).

Anies mengungkapkan terakhir kali kasus aktif DKI Jakarta di bawah 10 ribu pada 22 Mei, kemudian kasus aktif di DKI Jakarta terus meningkat hingga puncaknya pada 16 Juli mencapai 113.137 kasus aktif. Ketika terjadi puncak kasus aktif, seluruh kamar di RS penuh, bukan hanya ICU, kamar rawat inap, antrean masuk IGD panjang hingga ke selasar, dan pihak RS pun harus membangun tenda darurat.

Beragam upaya dilakukan pemerintah untuk menurunkan kasus aktif, dari melakukan penindakan disiplin protokol kesehatan hingga mengurangi mobilitas. Selain itu, penambahan kasus baru harian di DKI Jakarta telah turun. Sebelumnya, puncak pertambahan kasus baru harian terjadi pada 12 Juli dengan 14 ribu kasus baru.

"Kini tepat sebulan kemudian, penambahan kasus harian turun hingga seperempat belasnya. Pengawasan pelaksanaan PPKM level 4 yang berjalan dengan ketat oleh seluruh jajaran Forkopimda, baik Pemprov DKI, Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan seluruh aparat wilayah bersama dengan kecepatan melakukan lacak atau tracing warga yang terinfeksi dan kemudian dilakukan isolasi ini, alhamdulillah mampu menurunkan laju kasus baru, kasus harian secara sangat tajam dan penularan kasus baru ini mempengaruhi nilai laju penularan," ujarnya.

Anies mengungkap saat ini laju penularan di Jakarta berdasarkan data dari FKM UI telah melandai atau tepat dari 1,0. Namun Anies meminta semua pihak menjaga agar penyebaran Corona tidak kembali naik.

"Perhitungan terakhir dari tim FKM UI menunjukkan bahwa nilai Rt Jakarta tepat di 1,0. Artinya, pandemi melandai tapi belum benar-benar berkurang. Karena itu, kita harus berikhtiar ekstra, masih ada risiko putar balik atau naik lagi. Nah, saat ini kita sudah di angka 1,00. Bila mobilitas penduduk Jakarta tiba-tiba kembali tinggi, angka reproduction ini akan meningkat lagi. Ini tentu harus kita jaga momentum penurunan nilai Rt ini harus terus dilanjutkan," kata Anies.

Anies mengungkap dampak dari penurunan kasus baru, penurunan kasus aktif, penurunan laju penularan ini adalah berkurangnya beban di rumah sakit. Ia menyebut kini keterisian ruang tempat isolasi di DKI Jakarta berkurang.

"Saat ini keterisian tempat tidur isolasi di rumah sakit adalah 33 persen dan ICU adalah 59 persen. Ini jauh lebih rendah dari rekomendasi ambang batas maksimal oleh WHO, yaitu 60 persen," kata Anies.

Anies mengungkapkan, saat COVID-19 mencapai puncaknya, pemerintah melakukan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan untuk perawatan COVID-19. Saat itu jumlah rumah sakit ditambah menjadi 140 rumah sakit, kemudian dari 6.000 tempat tidur ditingkatkan menjadi 11 ribu tempat tidur.

"Nah, di awal gelombang kedua inilah, pada saat kita berkejaran dengan jumlah kasus baru inilah pentingnya menahan kasus baru dan kasus aktif. Karena kapasitas kesehatan kita bukannya tidak terbatas, tapi jelas ada batasnya. Bila batas itu terlewati, fasilitas kesehatan kita kolaps. Jumlah yang harus dirawat lebih banyak daripada jumlah tempat tidur dan kamar untuk perawatan," ujar Anies.

"Kini alhamdulillah beban fasilitas kesehatan kita sudah turun. Bahkan, bila diperhatikan, karena beban sudah turun, kapasitas perawatan COVID-19 kembali diturunkan untuk memberi ruang bagi perawatan pasien-pasien non-COVID," sambungnya.

Anies mengatakan saat ini pihaknya telah menurunkan jumlah kamar isolasi yang dipakai untuk perawatan COVID-19 menjadi pasien non-COVID-19. Apabila kapasitas perawatan COVID-19 tetap dipertahankan di titik tertinggi, keterisian rumah sakit bisa lebih rendah.

"Jadi sesungguhnya, bila kapasitas untuk COVID-19 terus kita pertahankan di titik tertinggi, keterisian rumah sakit kita bisa jauh lebih rendah daripada 33 persen atau 59 persen. Penurunan beban fasilitas kesehatan ini ikut mencegah kematian warga yang lebih banyak. Karena itu, angka kematian ikut turun," ujarnya.

Anies: Kemenangan di Depan Mata, Jangan Buka Ruang Gelombang Ketiga

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kemenangan melawan Corona sudah di depan mata. Namun dia meminta semua pihak tidak terlena oleh kasus Corona yang mulai melandai.

Anies awalnya berbicara tentang standar tes Corona menurut WHO. Dia mengatakan WHO menetapkan standar tes Corona pada 1 orang per seribu penduduk setiap minggu.

"Di Jakarta ini, dengan penduduk 10,6 juta, maka harus ada 10.600 orang dites per minggu atau 1.500 orang dites per hari. Nah, Jakarta secara konsisten mendorong jumlah tes berlipat-lipat di atas standar WHO," ucap Anies dalam konferensi pers 'Penjelasan Gubernur DKI mengenai Situasi Pandemi di Jakarta 14 Agustus 2021' yang disiarkan kanal YouTube Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (14/8/2021).

Anies kemudian mengatakan tes Corona di Jakarta sempat mencapai 24 kali lipat dari standar WHO. Dia mengatakan hal itu dilakukan saat puncak gelombang kedua Corona terjadi.

"Kini, saat pandemi mulai turun, kebutuhan tes kita juga ikut turun. Jumlah tes di Jakarta masih di kisaran belasan kali lipat di atas standar WHO. Kita terus jaga," ucapnya.

"Jakarta dalam seminggu terakhir ini mencapai lebih dari 11 orang per seribu penduduk per minggu. Ini jauh melebihi," sambung Anies.

Anies kemudian menunjukkan data positivity rate Corona di Jakarta. Dalam data yang ditampilkan Anies, terlihat positivity rate di Jakarta berada di angka 7 persen pada 12 Agustus 2021.

Jumlah itu turun drastis dibanding positivity rate 8 Juli 2021 yang berada di angka 48 persen. Anies berharap angka ini terus menurun.

"Kita harus mengejar agar tingkat positivitas ini di bawah ambang batas ideal, yaitu 5 persen," ucapnya.

nies mengingatkan kemenangan melawan pandemi sudah di depan mata. Namun dia meminta warga tak lengah dan terus mematuhi protokol kesehatan demi mencegah gelombang lonjakan Corona terjadi lagi.

"Kemenangan sudah di depan mata, sudah dekat. Tapi tidak boleh terlena, tidak boleh terburu-buru beraktivitas sebebas-bebasnya. Jangan meninggalkan kewajiban untuk menjaga prokes. Kemudian tetap mengurangi mobilitas dan jangan membuka ruang terhadap munculnya gelombang berikutnya, menyia-nyiakan usaha yang sudah berjalan luar biasa sebulan kemarin," tutur Anies.

"Terus waspada, terus jaga prokes, terus kurangi mobilitas dan satu lagi, segera dapatkan vaksinasi bagi yang belum vaksin," sambung Anies.

Dia mengatakan ada 8,7 juta warga di DKI yang sudah mendapat suntikan vaksin Corona dosis pertama. Selain itu, ada 3,8 juta yang sudah mendapat suntikan vaksin Corona dosis kedua.


https://news.detik.com/berita/d-5682344/wanti-wanti-anies-agar-gelombang-covid-ketiga-tak-terjadi/3

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wanti-wanti Anies Agar Gelombang COVID Ketiga Tak Terjadi

Trending Now

Iklan